Topik : Rasa sakit itu…

Siapa yang mengatakan ditusuk jarum suntik tidak sakit ? tapi siapa pula yang mengatakan itu sakit ?

Ada beberapa kisah yang mungkin dapat kita ambil pelajaran:

  • Seorang laki-laki diamputasi kakinya, tanpa dibius. Dapatkah kita turut merasakan betapa sakitnya ? tapi ternyata yang bersangkutan sendiri tidak merasakan sakit. Apakah kita harus memaksanya, “itu kan sakit sekali, sakit lho,… kok kamu tidak merasakan sakit sih,… ” Kok bisa tidak merasakan sakit ? Ini pengalaman dokter Indonesia, ketika membantu Bulan Sabit Merah di Afghanistan. Cukup sering, diantara para mujahidin, ada yang terkena pecahan mortir atau ranjau. Biasanya ada yang harus diamputasi minimal khan harus dijahit untuk menutup luka., dan tidak ada obat bius. Mengapa mereka tidak merasakan sakit ? Ya, karena rasa sakit itu adalah ciptaan ALlah, dengan dekat padaNya melalui dzikir, maka rasa sakit itu bisa tidak dirasakan

“Keimanan saya belum begitu tinggi, saya tidak mungkin begitu”,… kata seorang sahabat blogger, “lagipula ini khan bukan rasa sakit fisik, tapi sakit di dalam hati…”. Ok deh, saya coba ceritakan yang lainnya

  • Bayangkan, ketika kita kehilangan seseorang yang kita sangat cintai, ayah, ibu atau pasangan hidup kita? Apa yang kita rasakan ? sakiiit…😦 , dunia rasanya gelap. Lantas apa yang kita lakukan ? meraung-raung,… mencaci Tuhan tidak adil,… menjadi tidak waras ? Lantas, apakah kita tidak boleh sedih ? Tidak ada larangan, karena itu fitrah. Bagaimana mengexpresikan kesedihan itu yang diatur. Kita tidak boleh meraung-raung, kita diingatkan dengan ketentuan bahwa, semua yang kita cintai itu, mukanlah milik kita. Semua adalah milik ALlah, maka ketika yang punya mau mengambil, ya… dengan kelapangan hati, kita melepaskannya.

Jadi, bagaimana,… 

Semua yang kita miliki dan cintai, pada hakikatnya bukanlah milik kita. Kalau yang punya ingin mengambil, atau yang punya ridho, mengapa tidak ? Seandainya suami yang kita cintai ingin ML, cobalah untuk memahami. Memang kita perlu mulai sama introspeksi satu atau dua, mencoba memperbaiki kekurangan yang ada. Tapi ketika itu sudah coba dilakukan, servis sudah prima, suami juga sudah mengoptimalkan perhatiannya pada keluarga, toh ia masih mau ML, pahamilah. Itu ujian laki-laki. Masih lebih baik, ia ML, dibandingkan dengan  bila ia selingkuh atau jajan. Cobalah bersama lebih dekat lagi padaNya.

Maaf, tulisan ini tidak pro poligami. Hanya mencoba untuk melihat sisi lain.

Hidup ini pilihan,… dan rasa sakit itu, juga ciptaan ALlah. Kalau kita dekat denganNYA, maka rasa sakit itu relatif, bisa diatasi, wallahu’alam

9 responses to this post.

  1. wah afwan kakanda diriku kurang mengerti

    Reply

  2. Suatu ketika rasa sakit jg bs dimenej
    benar, hidup adalah pilihan
    Bg saya ML (menikah Lagi) itu pilihan yg keliru
    apakah krn tak ML, lantas hrs jajan ?
    Kl ML (making Love) bg suami istri
    itu mmng sebuah kewajiban
    (apalagi kl malam jumat saat gerimis)

    kakanda:
    yup, hidup memang pilihan

    Reply

  3. Jd inget bukunya pak Tjahyadi, “Bahagiakan diri dg satu istri”. Tp, sy pun blm membacanya, cm melihat judulnya sekilas di toko buku.🙂 kakanda dah baca?

    kakanda:

    Saya dah lihat “Bahagiakan diri dengan dua, tiga atau empat istri”🙂

    Reply

  4. “Hidup ini pilihan,… dan rasa sakit itu, juga ciptaan ALlah. Kalau kita dekat denganNYA, maka rasa sakit itu relatif, bisa diatasi,”

    hmmmm…. luar biasa !!!!

    kakanda:
    biasa saja pak,..🙂

    Reply

  5. Sahabat,

    Met jalani bulan suci
    mohon maaf lahir dan bathin

    Reply

  6. wah kakanda…tanpa rasa sakit itu mungkin Qta g akan pernah belajar lbh banyak.. Wuih agak sedikit bingung jg bacanya..hehe soalnya jd sakit euy…🙂

    kakanda:
    “tanpa rasa sakit itu mungkin Qta g akan pernah belajar lbh banyak”….🙂

    Reply

  7. Hidup ini pilihan,… dan rasa sakit itu, juga ciptaan ALlah. Kalau kita dekat denganNYA, maka rasa sakit itu relatif, bisa diatasi, wallahu’alam

    Setuju….

    Semua adalah milik ALlah…
    terima kasih sudah diingatkan..

    kakanda:
    terimakasih mas Joko,
    semoga kita bisa saling mengingatkan

    Reply

  8. Lebih baik mulai dengan memahami daripada dipahami..😀

    Hidup memang pilihan, dari tiap pilihan memiliki konsekuensi masing2, ujungnya ada sebuah pertanggungjawaban yg besar.
    Benar pilihan, tapi memilih tidak semudah melihat luasnya pilihan itu sendiri..

    *gak nyambung y pak ?😀, punteeen..

    kakanda:
    nyambung kok,…
    belajarlah untuk memahami,…
    bahwa rasa sakit itu relatif🙂

    Reply

  9. Posted by qanaahsholihah on September 8, 2008 at 11:00 am

    belajar untuk saling “merasa” satu sama lain sebelum semua itu terjadi. Keputusannya, dikembalikan ke pribadi masing-masing.

    kakanda:

    saling “merasai” ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: