Saat cemburu menyapa

Ketika membaca sebuah postingan saudariku, rasanya ada beberapa yang perlu dicek lagi referensinya, diantaranya, benarkah Aisyah ra hanya cemburu pada Khadijah ra ? Saya teringat, pernah ingin menulis khusus terkait cemburu (kalau terkait Fatimah dan Ali bisa dilihat postingan saya terkait Adil). Rencananya mau diringkas atau dirangkum (belum sempat), tapi sementara “kopas” dulu deh,…

Cemburu merupakan tabiat wanita. Ini juga dialami para istri Rasulullah dan shahabiyyah yang lain. Namun tentu saja, kecemburuan ini tidak serta merta membutakan hati mereka. Bagaimana dengan kita?

Cemburu tak hanya milik lelaki, tapi juga milik kaum wanita. Bahkan, wanitalah yang dominan memiliki sifat yang satu ini karena merupakan tabiatnya. Dan perasaan cemburu ini paling banyak muncul pada pasangan suami istri (Fathul Bari, 9/384).
Oleh karena itu, semestinya hal ini menjadi perhatian seorang suami. Sehingga ia tidak serampangan dalam meluruskan ‘kebengkokan’ sang istri dan dapat memaklumi tabiat wanita ini selama dalam batasan yang wajar. Apalagi pada hakikatnya, kecemburuan istri terhadap suaminya bukan merupakan hal yang tercela. Bahkan menjadi tanda adanya rasa cinta di hatinya. Tentunya selama tidak melampaui batasan syariat.
Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, asal dari sifat cemburu bukanlah hasil usaha si wanita, namun wanita memang diciptakan dengan sifat tersebut. Namun, bila cemburu itu melampaui batas dari kadar yang semestinya, maka menjadi tercela. Bila seorang wanita cemburu terhadap suaminya karena sang suami melakukan perbuatan yang diharamkan seperti berzina atau mengurangi haknya atau berbuat dzalim dengan mengutamakan madunya (yaitu istri yang lain, bila si suami memiliki lebih dari satu istri), kata Al-Hafidz, cemburu semacam ini disyariatkan (dibolehkan).
Dengan syarat, hal ini pasti dan ada bukti (tidak sekedar tuduhan dan kecurigaan). Bila cemburu itu hanya didasari sangkaan, tanpa bukti, maka tidak diperkenankan
. Adapun bila si suami seorang yang adil dan telah menunaikan hak masing-masing istrinya, tapi masih tersulut juga kecemburuan maka ada udzur bagi para istri tersebut (yakni dibolehkan) bila cemburunya sebatas tabiat wanita yang tidak ada seorang pun dari mereka dapat selamat darinya. Tentu dengan catatan, ia tidak melampaui batas dengan melakukan hal-hal yang diharamkan baik berupa ucapan ataupun perbuatan. (Fathul Bari, 9/393)

Cemburu Melebihi Batas
Ada kalanya kecemburuan seorang istri terhadap suaminya sangat berlebihan. Di benaknya seolah hanya ada sifat curiga. Bahkan tak jarang ia melemparkan prasangka buruk kepada suaminya dan tidak bisa menerima kenyataan bila suaminya memiliki istri yang lain.
Yang ironis adalah bila ada istri yang mengalami hal ini kemudian tidak dapat menahan diri dari perkara yang Allah haramkan, seperti lari ke “orang pintar.” Dengan bantuan tukang tenung atau tukang sihir, ia berharap suaminya membenci madunya dan hanya mencintai dirinya. Padahal perbuatan sihir merupakan perbuatan kekufuran yang diharamkan, sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya:

“Dan mereka (orang-orang Yahudi) mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidaklah kafir2 akan tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidaklah mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, karena itu janganlah engkau berbuat kekafiran.’ Maka mereka mempelajari sihir dari keduanya yang dengannya mereka dapat memisahkan antara suami dengan istrinya. Tidaklah mereka dapat memberi mudharat kepada seorang pun dengan sihir tersebut kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menjual agamanya (menukarnya) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. Betapa jelek perbuatan mereka menjual diri mereka dengan sihir itu seandainya mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)
Nabi juga bersabda:

“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan. Para shahabat bertanya: ‘Apa tujuh perkara itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘(di antaranya) Syirik kepada Allah, sihir’…” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)
Saking cemburunya, sebagian wanita bahkan ada yang sampai berangan-angan tidak dibolehkannya poligami dalam syariat ini3. Bahkan ada yang membenci syariat karena menetapkan adanya poligami. Sebagian yang lain mengharapkan kematian suaminya bila sampai menikah lagi. Yang lain tidak berangan demikian, tapi lisannya digunakan untuk mencaci maki madunya, meng-ghibah4, dan menjatuhkan kehormatannya. (Nashihati lin Nisa, Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah, hal. 158-159)
Karena sifat cemburu ini pula, mayoritas wanita merasa mendapatkan musibah yang sangat besar kala suaminya menikah lagi. Semestinya bagi seorang mukminah, apapun kenyataan yang dihadapi, semuanya itu disadari sebagai ketentuan takdir Allah. Semua musibah dan kepahitan yang didapatkan di dunia itu sangat kecil dibanding keselamatan agama yang diperolehnya.

Salahkah Bila Aku Cemburu?
Mungkin sering muncul pertanyaan demikian di kalangan para wanita. Maka jawabnya dapat kita dapati dari kisah-kisah istri Nabi. Mereka pun ternyata memiliki rasa cemburu padahal mereka dipuji oleh Allah dalam firman-Nya:
“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak sama dengan seorang wanita pun (yang selain kalian) jika kalian bertakwa…” (Al-Ahzab: 32)
Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa istri-istri Nabi  tidak sama dengan wanita lain dalam hal keutamaan dan kemuliaan, namun dengan syarat adanya takwa pada diri mereka. (Al-Jami` li Ahkamil Qur’an, 14/115)
Nabi sendiri sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu mereka, tidak menghukum mereka selama cemburu itu dalam batas kewajaran.
‘Aisyah bertutur tentang cemburunya:
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasulullah banyak menyebutnya dan menyanjungnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 2435)
‘Aisyah pernah berkata kepada Nabi mengungkapkan rasa cemburunya kepada Khadijah:
“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah? Nabi menjawab: ‘Khadijah itu begini dan begitu5, dan aku mendapatkan anak darinya.’” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3818)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Sebab cemburunya ‘Aisyah karena Rasulullah banyak menyebut Khadijah meski Khadijah telah tiada dan ‘Aisyah aman dari tersaingi oleh Khadijah. Namun karena Rasulullah sering menyebutnya, ‘Aisyah memahami betapa berartinya Khadijah bagi beliau. Karena itulah bergejolak kemarahan ‘Aisyah mengobarkan rasa cemburunya hingga mengantarkannya untuk mengatakan kepada suaminya: “Allah telah menggantikan untukmu wanita yang lebih baik darinya.” Namun Rasulullah berkata: “Allah tidak pernah menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya.” Bersamaan dengan itu, kita tidak mendapatkan adanya berita yang menunjukkan kemarahan Rasulullah kepada ‘Aisyah, karena ‘Aisyah mengucapkan hal tersebut didorong rasa cemburunya yang merupakan tabiat wanita.” (Fathul Bari, 9/395)
Pernah ketika Nabi berada di rumah seorang istrinya, salah seorang ummahatul mukminin (istri beliau yang lain) mengirimkan sepiring makanan untuk beliau. Melihat hal itu, istri yang Nabi sedang berdiam di rumahnya segera memukul tangan pelayan yang membawa makanan tersebut hingga jatuhlah piring itu dan pecah. Nabi pun mengumpulkan pecahan piring tersebut kemudian mengumpulkan makanan yang berserakan lalu beliau letakkan di atas piring yang pecah seraya berkata: “Ibu kalian sedang cemburu.” Beliau lalu menahan pelayan tersebut hingga diberikan kepadanya ganti berupa piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya, sementara piring yang pecah disimpan di tempatnya. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5225)
Hadits ini menunjukkan wanita yang sedang cemburu tidaklah diberi hukuman atas perbuatan yang dia lakukan tatkala api cemburu berkobar. Karena dalam keadaan demikian, akalnya tertutup disebabkan kemarahan yang sangat. (Fathul Bari, 9/391, Syarah Shahih Muslim, 15/202 )
Namun, bila cemburu itu mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan seperti mengghibah, maka Rasulullah tidak membiarkannya. Suatu saat ‘Aisyah berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu.” Salah seorang rawi hadits ini mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Aisyah adalah Shafiyyah itu pendek. Mendengar hal tersebut, Rasulullah  berkata kepada ‘Aisyah:
“Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air lautan niscaya akan dapat mencampurinya.” (HR. Abu Dawud no. 4232. Isnad hadits ini shahih dan rijalnya tsiqah, sebagaimana disebutkan dalam Bahjatun Nazhirin, 3/25)

Juga kisah lainnya, ketika sampai berita kepada Shafiyyah bahwa Hafshah mencelanya dengan mengatakan: “Putri Yahudi”, Shafiyyah menangis. Bersamaan dengan itu Nabi  masuk menemuinya dan mendapatinya sedang menangis. Maka beliau pun bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyyah menjawab: “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi.” Nabi  berkata menghiburnya: “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi dan engkau adalah istri seorang nabi, lalu bagaimana dia membanggakan dirinya terhadapmu?” Kemudian beliau menasehati Hafshah: “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah”. (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa, hal. 43 dan selainnya)

Sumber

Advertisements

29 responses to this post.

  1. Posted by ILYAS AFSOH on May 16, 2008 at 6:13 pm

    Saya cenburu membaca kedalaman ilmu Anda tentang Cemburu

    kakanda:
    maaf saya masih belajar, dan seperti disebutkan, tulisan ini masih kopas, belum sempat diringkas, digabung dengan beberapa referensi lain

    Reply

  2. sy cemburuan *mengakui*…..
    tp bila memang dgn yg lain dia bisa bahagia..
    mungkin itu yg terbaik..
    meski pahit 😦

    kakanda:
    cemburuan ? normal
    cemburu, jika suami selingkuh, normal
    cemburu, jika suami mau nikah lagi, normal
    cemburu dengan madu, normal
    Yang mengherankan, adalah ketika membiarkan suami mengambil jalan fujur, “asal botol tidak pecah, asal tidak dibawa ke rumah”

    Yang menjadi tidak normal, ketika bagaimana mengexpressikan sikap tersebut,…
    jangan sampai, justru ditunggangi si X (klik)
    bingkailah cemburu dengan iman
    bersama dengan pasangan (dan juga madu (?)), semakin dekat denganNYA

    Reply

  3. Terima kasih atas pencerahannya, Kanda

    kakanda:
    waiyyaka,
    btw, tokonya sudah dua nih 🙂

    Reply

  4. cemburu sah-sah saja,……… dalam fikir lugas tanpa khianat karnanya.

    kakanda:
    perlu managemen cemburu 🙂

    Reply

  5. Jangan terlalu cemburu, sabarlah dan jangan lupa

    DUKUNG & DOAKAN TIM UBER INDONESIA
    SEMOGA JADI JUARA

    kakanda:
    cemburu boleh, asal …
    wah hobi bulutangkis ya mas Indra

    Reply

  6. yg penting asalkan jangan berlebihan kan kakanda??

    kakanda:
    Semua yang berlebihan, meskipun halal, tidak baik
    100 mas Hangga

    Reply

  7. jujur pak , sebagai manusia biasa sepertinya saya masih punya yang namanya rasa cemburu

    kakanda:
    kalau tidak punya rasa cemburu, justru dipertanyakan

    Reply

  8. wah kang… cemburu ini memang salah satu bentuk emosi manusia, jadi ya memang tidak akan masuk tatar salah… manusiawi sekali kalau kata saya… eh hewani juga da hewan bisa cemburu juga…

    benar! yang penting adalah bagaimana menjaga akal tetap sehat dan pikir tetap jernih sekalipun sedang terbakar cemburu yang seringnya buta…

    *plak!…menampar diri sendiri karena masih terus belajar cara mengatasi cemburu yang tidak beralasan selalu*

    kakanda:
    jangan ditampar mba 😦

    Reply

  9. nice post 🙂

    cemburu akan indah jika pada waktunya…[opo maksude?! :mrgreen: ]

    kakanda:
    iya sama, belum ngerti
    maksudnya apa ya…

    Reply

  10. copas ajah 😀 :
    Dalam koridor rumah tangga, cemburu adalah ibadah. Rasulullah bersabda, “Ya, jihad mereka adalah kecemburuan, dan mereka harus mengendalikan diri mereka. Jika mampu bersabar, berarti mereka bagaikan seorang mujahid. Dan jika mereka rela, maka mereka bagaikan murabith, dan mereka mendapatkan dua pahala.”

    Wallahua’lam

    kakanda:
    wah, ditambahin 🙂
    sebaiknya juga ditulis perawinya ya …

    Reply

  11. tampaknya diriku termasuk wanita pencemburu tapi mudah2an tidak sampe berlebihan 😉

    kakanda:
    wanita pencemburu ? normal mbak
    bener, perlu dimanage dg baik, tidak buta

    Reply

  12. kata orang sich,, cemburu tanda cinta bener g’ ya??? maklum masi newbie

    kakanda:
    benar, tapi perlu dibingkai dengan rasa cinta pada ALlah

    Reply

  13. subhanallah

    mantap nih postingan

    aku ingin dicemburuidengan wajar
    sekedar bukti cinta sahaja 🙂

    kakanda:
    Benar cemburu adalah tanda cinta, tapi bukan cinta buta 🙂

    Reply

  14. Terima kasih kakanda…
    atas tadzkirahnya…
    mengena sekali, bagi pencemburu semacam saya.

    kakanda:
    Semoga kita bisa saling mengingatkan

    Reply

  15. He he he… kena deh…
    saya juga kadang… merasa… hati “cemot-cemot” karena cemburu… hmmm manajement cemburu dong….

    kakanda:
    bukannya manajemen cemburu bunda sudah lebih baik 🙂

    Reply

  16. memangnya laki-laki ga ada cemburunya gitu?

    Kakanda:
    Ada, 🙂

    Reply

  17. kenapa hampir semua wanita pencemburu ??

    kakanda:
    fitrahnya,…

    apakah karena faktor laki2nya ??? :mrgreen:

    kakanda:
    ngga juga, bagaimana kita membingkainya dalam iman

    Reply

  18. cemburu=bumbu…

    jadi cemburu secukupnya…

    kakanda:
    100 🙂

    Reply

  19. subhanallah… nice blog 🙂 moga aq bukan golongan wanita pecemburuan yang salah 🙂

    salam kenal

    kakanda:
    cemburu, tidak ada yang larang 🙂
    bagaimana menempatkannya secara benar, itu persoalannya

    Reply

  20. Posted by masmoemet on May 22, 2008 at 11:57 pm

    setuju komen mbak theloebizz :mrgreen:

    susah untuk bs nekan rasa cemburu 😦

    kakanda
    Jangan ditekan mas, diarahkan 🙂

    Reply

  21. hem…. ngena bgt, yahh… wajar sih cemburu, tapi terkdng berlebihn, jdi susahh nih ngendliin diri sendiri 😀

    makasih ya.. pencerahannya 😀

    lam kenal 😀

    kakanda:
    sama-sama
    Salam kenal kembali 🙂

    Reply

  22. emang kayaknya cemburu itu sulit dikontrol

    hm…. 🙂

    *senyum pas baca tentang istri Rasulullah—-> shaffiyah*

    kakanda:
    🙂 senyum ya, dicemburuin istri Nabi yang lain

    Reply

  23. Setuju bahwa Cemburu dalam batas-batas tertentu adalah lebih baik daripada tidak pernah mencemburui pasangan sama sekali. Salam kenal.

    kakanda
    Cemburu tidak pernah dilarang, bahkan jika tidak memiliki rasa cemburu, justru dipertanyakan

    Reply

  24. makasih postingannya om…
    ada pelajaran baru di sini 🙂

    kakanda
    sudah berani main jauh ? 🙂

    Reply

  25. wah.. boleh nih buat mba oin n kak duwi..
    😆

    kakanda:
    buat ukhti Presty juga 🙂

    Reply

  26. Saya termasuk pencemburu, ttpi terus belajar agar rasa cemburu ini tidak berlebihan. Selalu berdoa agar pemicu cemburu tidak menhampiri…..Apakah ini dapat disebut tidak iklas?? atau takut menerima cobaan?

    kakanda:
    Cemburu normal mba Rita, jangan dihindari ketika datang,
    bagaimana supaya tidak berlebihan, kontrol diri, dekat padaNYA, akan sangat membantu

    Reply

  27. assalamualaikum,

    saat cemburu menyapa, duh gimana ya kyaknya diubun2 kpalaku ada apaaaa gitu hehehe:D but stay blajar bwt mngendalikan diri n always smile. lam knl^^

    kakanda:
    salam kenal kembali

    Reply

  28. Posted by Tehnieta71 on August 14, 2008 at 12:26 pm

    Ada doa khusus?

    kakanda:
    doa mengatasi rasa cemburu ?
    secara khusus saya belum pernah dengar,
    akan saya coba selidiki,
    paling tidak cobalah untuk perbanyak dzikir, ingat pada Allah
    supaya tidak ditunggangi si X

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: