Pelajaran: Ada Apa Dengan Ayat-Ayat Cinta

Tulisan ini tidak bermaksud membahas kontroversi, fenomena dari novel dan atau film Ayat-ayat Cinta (AAC). Seperti komentar saya pada sebuah blog, mari kita aplikasikan apa-apa yang menggambarkan, begitulah seharusnya seorang muslim bersikap. Pelajaran apa yang dapat kita ambil ?

1. Visioner

Seorang muslim/ah sudah seharusnya memiliki perencanaan hidup. Tidak hanya cita-cita, tapi juga adanya rencana langkah-langkah pencapaian 10 tahun, 5 tahun, tahunan, bulanan dan harian serta terus mengevaluasinya

2. Akhlak terhadap tetangga

Minimal say hello, dan “memperbanyak kuah”, lalu memberikannya ke tetangga, adalah kewajiban muslim terhadap tetangganya. Diantara hikmahnya adalah, merekalah yang akan menolong kita
pertama kali, ketika kita mengalami kesulitan.

3. Akhlak terhadap non muslim

Bagaimana sikap RasuluLlah kepada “musuhnya” yang setiap hari melemparinya dengan kotoran ? Hatta ketika berhadapan dengan musuh pun, kita diperintahkan ihsan dalam “membunuh”. Saya tidak ingin mendebat argumen Fahri terkait “ahli dzimmi” (karena bukan ahlinya🙂 ), namun masukan dari sebuah blog (….), untuk tetap waspada terhadap musuh memang ada benarnya.

4. Akhlak terhadap lawan jenis

Cinta kepada ALlah, akan melahirkan cinta makhluk pada dirinya. Dan cinta kepada lawan jenis, perlu diarahkan, atas dasar cinta kepadaNya. Sang Kekasih telah memberi arahan yang jelas, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap lawan jenis. Karena cinta kepada ALlah SWT diatas segalanya, maka perasaan cinta pada seorang makhlukNya, bisa dikelola dan tidak membuatnya “terlena”, meskipun untuk itu “harus berbagi”.

5. Ihsan dalam menjalankan amanah

Bila kita mendapatkan amanah, sebaiknya kita tidak sekedar menjalankannya pada sekedar “cukup”. Hendaknya kita coba menunaikan hingga kadar “sangat baik” (ihsan atau profesional). Kita lakukan, seolah-olah kita melihat ALlah, meskipun kita tidak melihatNya, tapi kita akan dilihat oleh ALlah. Karena itu, ketika ada banyak amanah yang diemban, perlu penataan skala prioritas, bahkan kalau perlu beberapa amanah kita kembalikan atau serahkan pada orang lain, supaya dapat tertunaikan hingga kadar sangat baik.

6. “Berkorban” untuk dakwah

Dicontohkan oleh ibunya Aisha, seseorang muslimah yang cerdas, lebih memilih menikah dengan “Herr Greimer”

7. Sikap terhadap poligami

 Yang ini no comment dulu, sensitif.

Saya yakin, penulis novel ingin menyampaikan pesan nilai seperti diatas (mungkin saya salah, dan tentu ada banyak lagi nilai), dan Fahri bukanlah malaikat, Aisha bukanlah bidadari, kita bisa kok mengambil pelajaran.

Memang sih, untuk jadi seorang Fahri yang dicintai 4 wanita dan mereka “rela berbagi (baca: dipoligami)” “mungkin” hanya ada di AAC :)

Ctt: Salah satu yang tidak dapat diambil pelajaran, dari filmnya, adalah, karena pemerannya bukan mahramnya. (Seandainya pemeran Fahri telah menikahi pemeran Aisha dan Maria,… )

Sampai dimana pesan/nilai ini bisa sampai,… (manusia punya rencana/makar), ALlah SWT juga punya rencana/makar, waLlahu’alam. Mudah-mudahan tidak hanya jadi keuntungan si “India”.

19 responses to this post.

  1. Belum bisa komen panjang… nunggu postingnya selesai dulu…:mrgreen:

    kakanda:
    Maaf, tertunda. Silahkan beri masukan

    Reply

  2. satu catatan kecil saja untuk film itu, saya kok gak srek ya dengan cadar yang di kenakan pemeran utamanya, seperti gak niat makenya melorot gitu, menurut saya lebih baik pake jilbab saja kalau nanggung gitu, secara wanita di keluarga saya juga mengenakan cadar,

    kakanda:
    itu salah salah dua yang tidak dapat diambil pelajaran dari filmnya

    Reply

  3. belum nonton

    Reply

  4. Ya Allah….

    Reply

  5. nggak bisa komen soale nggak tahu

    Reply

  6. Alhamdulillah saya belum nonton.

    Btw; saya kadang bertanya, kalo mereka mengajak kita ghoswul fiqri, apa yang dapat kita perbuat? Insan perfilman yang notabene banyak muslim pun, jadi ikut terbawa arus tanpa tahu pegangan untuk keselamatannya di akhirat. Ada lagi? kalo disimak, penayang kaca pun (TV) seringkali menyuguhkan acara yang tidak kalah dengan itu; ghibah di mana-mana, seakan tanpa disadari kita telah makan bangkai saudara kita sendiri (na’udzubillah). Lagi-lagi, apa yang dapat kita perbuat? Antum punya saran?

    Wassalam

    kakanda:
    Televisi, Film, Radio dan semua alat elektronik audio, visual, hanyalah alat, tergantung kita
    mau pakai atau tidak, untuk mengajak umat mendekat padaNya
    kalau kita tidak pakai, maka “mereka” akan leluasa menghembuskan “jalan fujur”
    umat butuh alternatif, orang semacam Deddy Mizwar (Dengan “Kiamat Sudah Dekat”nya) perlu diperbanyak
    stasiun televisi semacam “al jazeera” perlu mengudara

    Reply

  7. Posted by kakanda on March 21, 2008 at 3:44 pm

    #Sdr Tony

    bila sempat bacalah novelnya
    saya dulu baca serial bersambungnya di republika
    dan setelah jadi “berita”, baca lagi beberapa kali yang versi online-nya

    saat ini saya tidak menyarankan untuk nonton filmnya
    apalagi di bioskop
    apalagi antre/nonton sampai lewat waktu sholat

    saya sedang menganalisa
    “Makaru wa makaruLlah”

    Reply

  8. Nah itu dia
    ayat ayat cintaku
    tak kunjung terungkap

    kakanda:

    disegerakan saja bang Achoey, “nanti menyesal loh”

    Reply

  9. kalo menurut saya, intinya adalah keikhlasan dan tetap istiqomah… ikhlas menerima ujian dan istiqomah menjalaninya…

    kakanda:

    Wah benar kang Dimas, jadi pelajaran ke 8. ikhlas menerima ujian dan istiqomah menjalaninya..

    Reply

  10. Posted by Okta Sihotang on March 22, 2008 at 12:09 pm

    no comment mah..🙂

    Reply

  11. iya , kepengennya memang muhrimnya , tapi apa mau dikata ?

    Reply

  12. pelajaran yang aku ambil: jangan mengasongkan seorang perempuan kepada laki-laki yang sudah beristeri ( paman nurul yang meminta fahri menikahi nurul) ha ha….

    Reply

  13. ah, alangkah bahagianya fahri..😉

    Reply

  14. Mudah-mudahan tidak hanya jadi keuntungan si ”India”.

    maaf ya pak..saya cuma mau mengomentari kalimat di atas.
    Andaikata para india2 itu (produser md) mengejar materi dalam pembuatan produksi AAC menurut saya sah2 saja, malahan saya salut krn keberanian mereka membiayai film ini. Kita sama2 tau, mereka itu non muslim, tapi mereka masih mau memproduksi dan mengeluarkan dana yg sangat besar yg orang muslim lainnya andaikata memiliki duit melebihi mereka juga berpikir ulang. Benar kata bapak, bahwa “Sampai dimana pesan/nilai ini bisa sampai,… (manusia punya rencana/makar), ALlah SWT juga punya rencana/makar.”

    Dan keyakinan saya, Allah pun tersenyum dan memberikan kebaikan pada tim produksi AAC, baik itu para produser, crew film, atau pemain film krn didalamanya ada kebaikan2 islam yg disuguhkan di tengah perfilman indonesia yang seringkali melupakan moral dan nilai2 islami di dalamnya. Paling tdk, AAC adalah sebuah film bertemakan islam no.2 setelah dulu pernah ada Kiamat Sudah Dekat.

    Ga ada yg sempurna di dunia ini. Ada sisi positif, bahkan sisi negatif dari AAC baik itu dari novel maupun filmnya. Namun, hikmah yg terkandung di dalamnya untuk meningkatkan semangat beribadah dan mencintai Islam lebih dalam tdk.bisa dipungkiri. AAC mempunyai cara tersendiri untuk berdakwah di tengah masyarakat Indonesia, dan menurut saya itu berhasil.

    kakanda:
    Mudah-mudahan tidak hanya jadi keuntungan si ”India”
    mereka secara jujur mengatakan (klik), tidak mengambil sisi dakwah, tapi hanya menampilkan sisi “romantisme”
    yang memang “digandrungi” masyarakat,…
    terimakasih Adhin, “tidak hanya” lho,…

    Reply

  15. film-nya sih tidak jauh beda dengan sinetron2 masa kini, ada sisi baik tapi yang buruk juga ada(seperti yang diungkapkan di atas) hanya saja media mungkin yang terlalu membesar-besarkan.
    untuk pemahaman keislaman yang “benar” (tentang aurat, muhrim, poligami, dll) bagi masyarakat muslim indonesia tampaknya perlu ada film2 sejenis ini . Dengan kemasan yang lebih baik lagi dan “benar” (dalam hal syari’at) insya allah lebih bermanfaat, bukan hanya sebagai hiburan belaka, tapi juga pendidikan keagamaan.
    >>>hanya ikut berpendapat<<<<

    kakanda:
    mudah-mudahan

    Reply

  16. sayangnya pesan-2 itu tidak tergambar jelas di film AAC
    di novelnya sangat jelas sekali, padahal sepertinya lebih banyak yang nonton filmnya daripada baca novel

    kakanda:
    mudah-mudahan jadi pada baca novelnya,
    mudah-mudahan banyak yang mengambil pelajarannya
    jadi amal jariah deh

    Reply

  17. Posted by balelol on March 27, 2008 at 7:38 am

    soal poligami…kok terkesan floating
    bukannya lebih baik katakan yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil
    anyway, life is all ’bout choices..saya hargai pilihan anda untuk no komen

    soal “india”…ga usah disebut lah, nanti malah jadi generalisasi
    kasian kan saudara-saudara muslim kita yang kebetulan born as orang india
    sebut namanya aja sekalian, kaya’nya lebih bagus

    ps. thx sudah komen di booth saia, it’s an honor (kakanda geto loh!)

    Reply

  18. Ternyata memang AAC ini menjadi bahan diskusi yang hangat. Disini cukup ramai mengeluarkan pandangannya. Sama seperti saya juga yang memberikan pandangan dan sedikit ulasan AAC disini

    Reply

  19. saya ga’ nonton dan ga’ tertarik, cukup info dari teman dan saudara, dulu sebelum tau filmnya tertarik bgt, pokoknya jadi film yg must view, tp begitu tau produsernya terus pemainnya jagi nek, dan pasti tdk sesuai Novel. Novelnya sangat2 indah. bukan novel sembarangan karena isinya tentang dakwah Islam. sy yakin filmya ga’ bakal sedalam itu, karena tetep sisi komersil (drama) yg ditekankan, bukan syiar Islam, sayang sekali…dan produsernya kan bukan muslim….coba Dedy Mizwar, Garin, ato Miles yang ngerjain. Semoga Laskar Pelangi benar2 seperti novelnya.
    dewisang.wordpress.com

    kakanda:
    Bu guru,
    saya juga tidak menyarankan nonton filmnya,
    sebab seperti apa kata produsernya, sisi romantismenya, yang sangat menonjol

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: