Tidak boleh (merasa) patah hati

heartbreak.jpgPernahkah anda mencintai seorang lawan jenis sedemikian hebatnya, sampai-sampai merasa bahwa inilah cinta sejati anda? Pernahkah anda merasakan bahwa ada seseorang yang sedemikian menariknya dan merasa bahwa ia adalah orang yang paling tepat tuk bersama-sama mengarungi hidup? Dan pernahkah pula anda merasa bahwa ternyata, cinta anda bertepuk sebelah tangan, harapan-harapan anda pupus terhempas realita, dan kesedihan anda begitu menguasai jiwa?
Malam-malam terlewati disertai air mata yang mengalir, hari-hari dilalui dengan kehampaan yang menyelimuti, dan anda hidup di dunia bagaikan sesosok mahluk tanpa nyawa yang sembari menekan rasa sakit di dalam hati akibat cinta yang tak seindah harapan.Patah hati memang telah lama menjadi sumber inspirasi. Entah telah berapa banyak karya-karya sastra yang dibangun berdasarkan pengalaman pahit cinta ini. Lagu-lagu tercipta dengan indah ketika sang pengarang sedang merasakan kepedihan patah hati; puisi-puisi terlantun menyedihkan bertebaran menemani sang penyair yang sedang dirundung kesedihan patah hati; novel maupun cerpen mengalir menuturkan pedihnya patah hati.

Sadari saudaraku, bahwa sesungguhnya tak pantas kita merasa patah hati. Hati seorang muslim itu terlalu lembut tuk bisa patah. Hanya meraka yang memiliki hati yang keraslah yang mungkin merasakan patah hati. Hanya mereka yang menempuh jalan yang berlikulah yang pantas tuk patah hati. Mereka yang telah berusaha menapaki jalan lurus, tidak seharusnya dan tidak boleh merasa patah hati.

Ketika kita telah mengajukan lamaran dan mengajak seseorang tuk menikah dan ditolak, maka tidak perlu ia merasa patah hati. Toh ia telah menjalankan suatu ibadah, membuktikan niatan suci dalam hati, dan berusaha menjalani sunnah dengan menikah, dan menjaganya dari cara-cara yang tidak diridhoiNya.

Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan Rasulullah SAW tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan: “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian, kemudian Allah memerdekakan…,” kata Bilal. Kemudian ia melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Dan kalau Anda menolak, maka kami mengucapkan Allahu Akbar. Allah Maha Besar.”

Maka ketika pinangan ditolak, agungkan nama Allah. Semoga kita tetap berbaik sangka pada Allah. Kita tetap berprasangka baik, sebab, bias jadi, penolakan justru merupakan jalan pensucian jiwa dari kezaliman-kezaliman diri kita sendiri. Boleh jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan dan kejernihan niat, mengingat ada banyak hal yang dapat menyebabkan terkotorinya niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat anda, kecuali jika justru anda merendahkan diri sendiri. Tapi kita juga perlu memeriksa hati, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ‘ujub (kagum pada diri sendiri).

Penolakan bias saja merupakan cara Allah, untuk meluruskan niat dan orientasi Anda.

Kekecewaan mungkin saja timbul. Barangkali ada yang merasa perih, barangkali ada juga yang merasa kehilangan rasa percaya diri ketika itu. Dan ini merupakan reaksi psikis yang wajar, sehingga saya juga tidak ingin mengatakan, “Tidak usah kecewa. Anggap saja tidak ada apa-apa”

Kekecewaan adalah perasaan yang manusiawi. Tetapi ia harus diperlakukan dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan kita ke jurang kenistaan.

RasuluLlah SAW mengajarkan, “Ada tiga perkara yang tidak seorang pun dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa kecewa dan dengki. Dan aku memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan; apabila timbul dihatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan; dan apabila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan”

Kekecewaan memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa. Mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Mereka berusaha memendam dalam-dalam atau segera menutupi rapat-rapat dengan menjauh dari sumber kekecewaan. Repress, istilah psikologinya. Sekilas tampak tidak ada masalah, tapi setiap saat berada dalam kondisi yang rawan. Perasaan itu mudah bangkit dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian tidak dikehendaki Islam.

Islam menghendaki kekecewan itu, menghilang pelan-pelan dengan cara yang wajar, sehingga kita bias mengambil jarak dari sumber kekecewaan sehingga tidak kehilangan obyektifitas dan kejernihan hati. Kalau kita bias mengambil jarak, kita tidak terjerembab dalam subyektivisme yang berlebihan. Kita menjadi lebih tegar, meskipun menghapus kecewa dengan cara itu dibutuhkan proses yang lebih lama, jika dibandingkan dengan bila kita me –repress-nya


Ingat satu hal, “Pejuang Cinta Takkan Pernah Kalah”, karena orientasi cinta yang ada di dirinya adalah orientasi cinta yang menembus awan dunia dan bermuara pada cinta kepada Rabbnya. Semoga kita bisa menjadi “Pejuang Cinta Sejati”… AminAllahu akbar

Jadi ingat lagunya “Opick”

Kubersujud padaMU dan pasrahkan diri di kemahaanMU


sebagian dikutip dari Muhammad Fauzil Adhim, Kado pernikahan untuk Istriku

sebagian lagi dikutip dari suryaningsih.wordpress.com
Jakarta, 28 Januari 2008
Syamsul Arifin (http://genkeis.multiply.com)
Untuk yang pernah bersedih karena “cintanya telah menang”, bergembiralah merayakan cinta, dan sambutlah (cari, -red) cinta yang telah Allah siapkan untukmu

10 responses to this post.

  1. hoalah, ini yg sering saya rasakan 😆

    Reply

  2. hehehehehe.. rasanya saya harus forward artikel ini ke rekan2 saya itu 😀

    Reply

  3. hu hu hu…
    i like this article!

    Reply

  4. pernah 😀

    Reply

  5. Assalamu’alaikum Ikhwah
    Patah hati? Masya Allah… (sepertinya saya sendiri pernah merasakannya). Tapi kalo disimak, kenapa itu bisa terjadi? Umumnya karena satu hal, kurang atau bahkan tidak adanya ikhlas di dalamnya. Jika cinta kita ikhlas, bagaimana pula akan berakhir dengan patahnya sang hati? Bahkan syaitan pun tidak dapat menembusnya! Emang bener, segala sesuatu tergantung niatnya; bener kan khi? Innamal a’malu binniyah wa innama likullimriimmanawa ….Syukron khi, ana tersentil juga nich. Wassalamu’alaikum

    Reply

  6. Posted by Amel on March 22, 2008 at 10:44 am

    Jd merasa tersentil dgn artikelnya 😀

    Reply

  7. Posted by kakanda on March 22, 2008 at 11:49 am

    #Misglasses
    #Santi
    #Presty
    #Andaluzzia
    #Adi
    #Amel

    Semoga kita dapat lembutkan hati, dengan cinta kepadaNYA diatas segalanya

    Reply

  8. hmmm…. kesedihan, kekecewaan, karena cinta salah satu dari sekian banyak pembalajaran dalam hidup yang bisa mendewasakan diri…

    semua orang pernah mengalaminya, begitu pun dengan saya… pernah sakit yang teramat dalam krn cinta, pernah mengecewakan dan dikecewakan… tp itu eposide hidup saya yang harus saya jalani….

    Reply

  9. huehuheuheuheu

    ga boleh yah om…

    hmmmmmmm

    diusahakan ga lagi 😀

    kakanda:
    cup cup cup,…
    udah besar, ngangisnya ngga boleh lama 🙂

    Reply

  10. Patah Hati ??…., 🙂

    kakanda:

    ngga boleh 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: