R.A. Kartini "menangis" di kuburnya

Momen Idul Adha, memiliki korelasi erat antara Nabi Ibrahim a.s., pendidikan dan R.A Kartini.

Korelasi itu adalah:

  1. KhaliluLlah (kekasih Allah), Ibrahim a.s. telah memberi contoh bagaimana mengajarkan tauhid “Laa ilaha illa Allah”, bagaimana ia diuji dengan mendidik “istri kedua” Siti Hajar, yang akan melahirkan, mau ditinggal disebuah tanah tandus, sendirian. “Mengapa engkau tinggalkan kami, kakanda ?” sampai tiga kali istrinya bertanya, dan Nabiyullah Ibrahim a.s, tidak menjawab apa-apa. Hingga istrinya “sadar” dan berujar “apakah ini perintah Allah ?”, “ya” jawab Ibrahim as, dan pergilah ia kembali ke Syam. “Kalau benar perintah Allah, tentu IA tidak akan pernah menyia-nyiakan kami”
  2. Siti Hajar berlari-lari diantara shafa dan marwa, mencari air.
  3. Ketika Nabi Ibrahim kembali, putranya Ismail a.s sedang “lucu-lucunya”, ujian datang dengan perintah untuk “menyembelih anaknya”.  Tanpa didikan baik dari ibunya Siti Hajar, tidak mungkin Ismail a.s
    ketika ditanya ayahnya “bagaimana pendapatmu, wahai anakku?”, dengan cerdas ia menjawab “laksanakanlah perintah Allah, ayah, semoga aku termasuk orang-orang yang bersabar”. Syeithan pun tidak tinggal diam, dan beberapa kali Ibrahim a.s. mengusirnya dengan lontaran-lontaran kerikil. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (TQS. al-Shaffat [37]: 102).
  4. Semua apa yang dilakukan keluarga Ibrahim a.s. terekam dalam ibadah haji (tawaf, sai, melempar jumroh), bagi yang “diundang” oleh Allah SWT. Bagi yang tidak di tanah suci, diperintahkan untuk “berkorban”
  5. R.A. Kartini sedih melihat kondisi kaumnya di marjinalkan. Upayanya berproses terekam dalam kumpulan surat-suratnya yang berjudul seharusnya “Minadz dzulumati ilannur (dari Kegelapan “jahiliah” menuju Cahaya “Islam”), diterjemahkan ke bahasa Belanda, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.  Kartini belajar Islam dan memperjuangkan agar kaumnya memperoleh pendidikan yang setara, agar dapat mendidik generasi yad lebih baik, bahkan ia menjadi “istri kedua” Bupati Rembang.

Mengapa R.A. Kartini “menangis” ?

Karena ternyata kaumnya “keblablasan”.  Islam menempatkan hak yang sama bagi laki-laki dan wanita untuk memperoleh pendidikan.  Namun “aktualisasi diri” kaumnya ternyata menuntut hingga:

  1. Pekerjaan domestik bukan kodrat. Laki-laki juga harus berbagi mengurus rumah tangga, mendidik anak. Saat ini kaumnya diprovokasi, kalau hanya menjalankan peran domestik, “penindasan”, budak suami.
  2. Menginginkan keterwakilan 30 % di parlemen, padahal di negara maju yang feminisnya “sadar” “mencoba kembali ke fitrah”, di AS misalnya saat ini 9-11 persen, maka di Indonesia saat ini 12% sudah cukup bagus. Kaum Ibu negara maju, ketika menikah dan punya anak, menurunkan aktifitasnya.  Setelah anaknya sekolah, baru ia bekerja kembali.

Terhadap ibu-ibu yang banting tulang untuk menyekolahkan anaknya (seharusnya ini tanggung jawab suami atau NEGARA), biasanya anak-anaknya lebih sayang, tapi kepada ibu-ibu yang sekedar aktualisasi diri, mengejar status, padahal suaminya sudah mencukupi, anak-anaknya akan menilai “IBU MENGABAIKAN SAYA”.

Konteksnya penyiapan generasi. Seorang ibu memberi cinta, kasih sayang, contoh yang bagus, sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sholeh. Negara bisa makmur, kalau manusia-manusianya shaleh. Indonesia belum makmur karena orang-orangnya belum shaleh. “Bumi ini kuwariskan kepada hamba-hambaKu yang shaleh”.

Sumber:

  1.  Tragedi Kartini

Lampiran:

TRAGEDI KARTINI:

Kartini adalah seorang sosok wanita yang tengah berjuang, dimana ia belum sampai pada tujuan perjuangannya. Kartini masih berada dalam proses, proses yang juga dijalani oleh wanita-wanita sesudahnya.

Perjalanan Kartini

Kartini adalah seorang wanita yang cerdas. Terbukti hanya dengan bekal pendidikan Sekolah Rendah (setingkat SD), ia telah mampu mengajukan kritik dan saran pada Pemerintah Hindia Belanda, yang salah satunya berbunyi �Berilah pendidikan bagi bangsa jawa”. Hal ini menunjukkan bahwa Kartini mempunyai keperdulian yang sangat dalam terhadap nasib bangsanya, yang oleh pemerintah Hindia Belanda dibiarkan berada dalam kebodohan dan kebutaan.

Pada mulanya Kartini tidak bercita-cita untuk menjadi muslimah. Sebelum Kartini lebih jauh mengenal Islam, ia telah mengenal sebuah prinsip melalui semboyan Revolusi Perancis, yaitu Liberte, Egalite, Freternite (Kemerdekaan, Persamaan, Persaudaraan). Beranjak dari sinilah Kartini mulai berusaha mendobrak adat yang berlaku pada masa itu, dimana orang selalu dibeda-bedakan berdasarkan warna darahnya, apakah dia ningrat (berdarah biru) atau bukan. Menurut Kartini, yang membedakan derajat seseorang hanyalah pikirannya (fikroh) dan budi pekertinya (akhlak).

Kartini Berjuang Sendiri

Dalam menjalani perjuangannya, Kartini berjuang sendiri, tidak bergabung dengan barisan manapun yang dapat memperkokoh kedudukannya.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. 61:4)

Sudah merupakan sunatullah, bahwa orang yang berjuang sendirian akan lebih rentan terhadap berbagai serangan yang datang dari musuh-musuhnya. �Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir.” (Ali bin Abi Thalib).

Serigala itu hanya menerkam domba yang sendirian. Demikianlah yang terjadi pada Kartini. Oleh sebab itu dengan leluasa musuh-musuhnya menjadikan Kartini sebagai permainan serta memper-alatnya. Tidak jarang Kartini menjadi bulan-bulanan musuh-musuhnya yang berkedok sebagai teman surat-menyurat (Stella yang Yahudi), guru privat (Annie Glasser, mata-mata Abendanon), dan lainnya. Bahkan sempat pula Kartini diperalat oleh Ir.H.Van Kol, yang berusaha memperjuangkan ke-berangkatan Kartini ke negeri Belanda, untuk dijadikannnya sebagai saksi hidup atas kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. Hal ini bukan berarti Van Kol perduli dan membela rakyat di tanah jajahan, tetapi ia berambisi untuk meme-nangkan partainya (sosialis) di parlemen.

Hidayah Allah

Seperti telah disebutkan bahwa menjadi seorang muslimah bukanlah awal dari cita-cita Kartini. Bahkan ada suatu masa dimana Ny.Van Kol berusaha mengkristenkan Kartini. Meskipun ia gagal untuk mengkristenkan Kartini, namun ia berhasil mendangkalkan aqidah Kartini. Sehingga dalam beberapa suratnya, Kartini sering menyebutkan Allah dalam konsep trinitas.

“Namun demikian, Allah pula lah yang mempunyai kehendak atas hamba-Nya. Allah menurunkan hidayah-Nya pada Kartini melalui sebuah pengajian dan pertemuan singkatnya dengan KH. Sholeh Darat. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” (QS. 2:257)

Inilah titik awal dari pembalikan Kartini (inqilab) dari kegelapan jahiliyah menuju pada cahaya Islam (Minazh Zhulumaati ilan Nuur). Melalui Al-Quran yang sebagian diterjemahkan oleh KH.Soleh Darat, Kartini mulai mempelajari Islam dalam arti yang sebenarnya. Mulai saat itu Kartini bercita-cita untuk menjadi seorang muslimah sejati.

Kalimat Minazh Zhulumaati ilan Nuur sering Kartini ulang-ulangi di dalam suratnya, yang dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Door Duisternis Tot Licht. Sayang-nya, kalimat tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane (nasrani) sebagai �Habis Gelap Terbitlah Terang”, sehingga maknanya yang begitu dalam tidak lagi terlihat.

Rancu

Meskipun Kartini telah berusaha untuk mempelajari Islam dan berjuang di jalan Islam, tapi ia belum juga mempunyai gambaran yang jelas tentang Islam, sehingga pemahamannya tentang Islam bersifat parsial, tidak menyeluruh. Hal inilah yang menjadikan Kartini tidak tahu akan panjangnya jalan yang harus ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. Pemikirannya sering kali masih rancu dengan konsep Barat dalam operasional dan perinciannya, walaupun secara global adalah konsep Islam. Hal ini sangat mungkin sekali terjadi, karena teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani.

Juga dalam beberapa suratnya, secara tidak sadar Kartini menceritakan tentang praktek keburukan umat Islam (bukan Islamnya yang buruk) kepara sahabatnya yang bukan muslim. Hal inilah yang kelak kemudian hari akan menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam.

Melihat perjalanan kehidupan Kartini, banyak pelajaran yang dapat kita petik. Janganlah kini kita menyalahkan Kartini kalau ia belum bisa lepas dari kungkungan adat dan pengaruh pendidikan baratnya. Kartini telah berjuang untuk mendobraknya, dan ia pun telah berusaha menjadikan dirinya seorang muslimah sejati. Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini atas usaha dan perjuangannya.

“Hidup ini patut kita hayati ! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dulu ?”

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”

Surat-surat Kartini

Diringkas dari sumber “Tragedi Kartini” karya Asma Karimah

Sumber: Nis@-Online

3 responses to this post.

  1. Posted by yanti on April 27, 2008 at 11:34 am

    Hmm… Tidakada seorangpun yang tidak kagum pada Ibu Kartini….
    Ia memang “seseorang”… Seseorang yang selalu berjuang dan “berani” mengungkapkan apa yang dia mau….
    Jazakallahu.. untukmembuka pribadi Kartini dariarah yang berbeda

    Reply

  2. Assalamu’alaikum
    Ana pikir, inilah pemikiran yang hasan tentang Kartini. Beginilah semestinya, para blogger mengangkat sosok Kartini ke permukaan. Karena kalau tidak, tanpa disadari, kita akan termakan dengan pemutarbalikan fakta tentang perjuangan Beliau. Kanda, terima kasih sudah menuliskan sosok Beliau yang saya yakini bahwa inilah yang benar.
    Wassalamu’alaikum

    Reply

  3. Posted by wawan on June 10, 2008 at 9:05 am

    Assalaamu’alaikum

    Afwan sebelumnya … sebagai bahan perbandingan
    ini ana kutipkan beberapa surat RA. Kartini dari buku “Fakta & Data YAHUDI di Indonesia” karangan Ridwan Saidi hal 67/68 :

    “Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam, dan lain-lain. (Surat 31 Jan 1903)

    “Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk antara sesama makhluk Tuhan, cokelat atau putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apapun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapak, dari satu Tuhan!”

    “Anak-anak dari satu Bapak, dasar segala agama dara dan saudari jadinya, harus saling cinta mencinta, artinya tunjang menunjang, bertolong-tolongan. Tolong menolong dan tunjang-menunjang, cinta-mencinta, itulah nada dasar segala agama.” (Surat 21 Juli 1902 kepada Ny. Van Kol)

    “Hanya ada satu kemauan, yang boleh dan harus kita punya: kemauan untuk mengabdi kepadanya: Kebajikan!” (Surat Oktober 1900 kepada Ny. M.C.E. Ovink Soer)

    Dari kutipan surat2 RA. Kartini tsb kita menjumpai persamaan pendiriannya dengan Labberton yg mengatakan sifat2 agama adalah sama yaitu cinta pada sesama. Sedangkan RA. Kartini menggunakan istilah “nada dasar” agama2 adalah sama yaitu cinta kepada sesama dan tolong-menolong. Keduanya melihat agama dalam dimensi tunggal, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia saja. Keduanya mengabaikan dimensi lain ajaran agama yaitu hubungan antara manusia dengan Allah (Hablum minallah)

    …. selengkapnya silakan baca buku tsb

    wassalaamu’alaikum

    kakanda:
    Wa’alaikumsalam wRwB
    Terimakasih atas tambahan masukannya
    Sejarah Kartini, memang perlu diluruskan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: