Topik Adil

Adil tidak berarti sama rata, tapi proporsional, sesuai dengan kebutuhannya. Tidak mungkin ALlah mengizinkan dan membatasi hambaNYA berpoligami, bila manusia tidak bisa berlaku adil. Kita simak adil yang dimaksud dalam berpoligami:

  1. Yusuf Qardhawi: Syarat yang diletakkan oleh Islam untuk bolehnya berpoligami adalah kepercayaan seorang Muslim pada dirinya untuk bisa berlaku adil diantara para istrinya dalam masalah makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, menginap dan nafkah. Maka barangsiapa yang tidak yakin terhadap dirinya atau kemampuannya untuk memenuhi hak-hak tersebut dengan adil, maka diharamkan baginya untuk menikah lebih dari satu. Allah berfirman: “Jika kamu takut berlaku tidak adil maka cukuplah satu istri” (Annisa:3)Kecenderungan yang diperingatkan di dalam ayat ini adalah penyimpangan terhadap hak-hak istri, bukan adil dalam arti kecenderungan hati, karena hal itu termasuk keadilan yang tidak mungkin dimiliki manusia dan dimaafkan oleh Allah.Allah SWT berfirman:“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adl diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (AnNisa 129)Oleh karena itu, RasuluLlah SAW menggilir istrinya dengan adil, beliau selalu berdoa, “Ya Allah inilah penggiliranku (pembagianku) sesuai kemampuanku, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa-apa yang Engkau miliki dan yang tidak saya miliki”. Maksud dari doa ini adalah kemampuan untuk bersikap adil di dalam kecenderungan hati kepada salah seorang istri.
  2. Manusia tidak mungkin berlaku Adil, jadi Poligami haram: kata Muhammad Abduh (1849-1905), seperti dikutip dari Dialog Republika, Jumat, 08 Desember 2006 Mendudukkan Poligami. …
    Menurut DR Ahmad Satori, Ketua umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) adil merupakan syarat mutlak dalam poligami. ”Mengapa kata-kata adil ini disebut di akhir ayat, untuk memberikan penekanan. Karena berlaku adil bagi manusia biasa tidaklah gampang,” ujar Satori.
    Sedang pakar hadis Prof Ali Musthafa Ya’qub menegaskan poligami adalah sesuatu yang sudah qath’i, sudah pasti dibolehkan dalam Islam. Dalam Alquran surat an-Nisa ayat 3, kata kerja yang digunakan dalam ayat tersebut adalah fi’il amr) yakni kata kerja perintah. “Adil adalah konsekuensi yang harus ditanggung bila seseorang berani berpoligami,” ujarnya. Prof Ali juga menegaskan dari pada seseorang melakukan maksiat dengan berpacaran atau selingkuh, maka poligami bagi orang seperti itu lebih baik.
    Pandangan yang sama diungkapkan salah seorang ketua PP Aisyiyah DR Masyitoh Chusnan. Memang dalam Alquran disebutkan berpoligami itu diperbolehkan. ”Hanya saja ada syaratnya. Syarat inilah yang kurang diperhatikan oleh para pelaku poligami. Alquran itu dengan jelas membolehkan poligami asal bisa berlaku adil. Kalau tidak bisa berbuat adil, artinya tidak boleh,” ujarnya.
  3. Apakah Surat An-Nisaa’ ayat 129 telah menghapus hukum Surat An-Nisaa’ ayat 3 (Tentang keharusan berbuat Adil) ? Tidak ada pertentangan di dalam dua ayat tersebut dan tidak pula ada penghapusan hukum oleh salah satu dari kedua ayat tersebut terhadap yang lainnya.
    Perbuatan adil yang diperintahkan adalah yang sesuai kemampuan, yaitu adil di dalam pembagian waktu bermalam dan pemberian nafkah.
    Sedangkan adil dalam masalah cinta dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti perbuatan intim dan sejenisnya, maka hal ini tidak ada kemampuan.
    Permasalahan tersebut yang dimaksudkan dengan firman Allah Ta’ala :وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (An-Nisaa’: 129)Oleh karena itu telah kuat riwayat hadits dari Nabi pada riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:“Beliau biasa membagi hak diantara istri-istrinya lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, inilah usahaku membagi terhadap apa yang aku mampu, maka janganlah Engkau cela aku terhadap apa yang Engkau mampu sedangkan aku tidak mampu. ” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nasal, dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan- AlHakim) (Sumber : Fatwa-Fatwa Ulama Ahlus Sunnah seputar Pernikahan. Penerbit Qaulan Karima Purwakerta. Terjemah kitab : Fatawa Al Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah. Bab Nikah Wathalaq. Penterjemah : Abu Abdirrahman Muhammad bin Munir. Cet. I Okt. 2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: