9 dari 10 pintu rizki

Sembilan dari sepuluh pintu rizki adalah melalui perniagaan, bagaimana memahaminya ?

Saya termasuk yang sedang belajar. Sudah coba dari beberapa tahun terakhir, namun rasanya investasi terus, belum “berbuah hasil nyata”.

Ternyata banyak hal yang perlu di ‘musahabah”. Diantara yang perlu diperhatikan adalah faktor bagaimana mengetuk pintu-pintu rizki Allah (selengkapnya disini):

  1. Taubat dan Istighfar
  2. Bertakwa
  3. Bertawakkal
  4. Silaturahim
  5. Infak

Berikut, saya kutipkan, sebuah tulisan menarik:

======================================

Bismillahirrohmanirrohiim.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Segala puji bagi Alloh, Tuhan Semesta Alam, tiada daya dan upaya kecuali hanya pertolongan Alloh, dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Sholawat dan salam tercurahkan kepada nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga, sahabat, pengikut, serta umatnya hingga akhir jaman. Amma ba’du.

Alloh SWT berfirman dalam QS 28:77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya sbb:
“Lebih baik bagi mu meninggalkan keluarga mu dalam keadaan kaya raya, dari pada
meninggalkan keluargamu dalam keadaan miskin dan meminta-minta pada orang lain”.

Dari nash-nash diatas maka dapat dipahami bahwa Islam membolehkan ummatnya untuk
menjadi orang mampu, yang cukup, yang memiliki kehidupan yang layak, bahkan menjadi
orang kaya, asalkan kekayaan dan harta yang kita miliki itu digunakan di jalan
Alloh. Semakin banyak harta kita semakin banyak kewajiban yang harus kita penuhi,
kita bisa membantu sodara-sodara kita yang kekurangan, yang lemah, dll.

Berkaitan dengan hal ini, saya ingin coba omong-omong (baca e-mail-email, sekedar
sharing meskipun masih jauh dari keberhasilan…) mengenai kewirausahaan.

Dalam hidup ini seringkali kita enggan, tidak mau bahkan takut untuk mengambil resiko,
takut dan ragu-ragu mengambil keputusan, tapi kita sering dan mau terlibat dalam
kegiatan, usaha, dll yang dilakukan oleh teman, sodara, kerabat apalagi kalo hal
tersebut menjanjikan (prospective), pertanyaannya kenapa tidak kita yang mulai?.

Kita sering berkata pada anak kita, ‘nak belajar yang baik, supaya kamu nanti
jadi anak yang pintar, jadi insinyur, jadi manager, dll. Sadar ataupun tidak
secara langsung maupun tidak kita telah menanamkan mental budak, mental pekerja
pada darah daging kita yang kita kasihi.
Mengapa kita tidak katakan pada anak kita, ‘nak belajar yang baik, supaya kamu nanti
jadi pengusaha, jadi pemimpin, jadi orang besar, dll. bukans sekedar jadi orang gajian.

Salahkan bila seseorang memutuskan menjadi pekerja, ya tentu saja tidak. Manusia kan
bebas memilih jalan hidupnya dan tiap-tiap sesuatu pasti ada hikmah nya juga, kalo
tidak ada guru (pekerja) maka tidak ada yang namanya presiden, pengusaha, dll.

Tetapi pada kesempatan ini yang ingin saya sampaikan adalah memunculkan sisi/ jiwa
wirausaha yang ada pada umat Islam, gimana caranya umat ini menjadi penentu dalam
bidang ekonomi bukan yang ditentukan.

Saya lupa teks berikut hadits apa bukan (mungkin ada yang bisa bantu):
“9 dari 10 pintu rizki adalah dagang/bisnis/wirausaha”.

“Rasululloh hijrah dari Mekkah menuju Madinah, bangunan yang pertama dibangun adalah
Mesjid dan yang kedua adalah Pasar”.

Bila kita tengok kebelakang (sirah/tareh), kita tahu Rasul SAW adalah dulunya
seorang pedagang (bisnis/wirausaha).Bahkan kelebihan rosul adalah beliau sebagai
seorang pedagang yang JUJUR, sehingga karena kejujurannya itu beliau digelari
AL-AMIN.

Berkaitan dengan kewirausahaan ini maka seorang muslim harus BERANI MEMULAI,
karena tanpa keberanian untuk mulai mencoba dia tidak akan tahu apakah akan
berhasil atau tidak, meskipun keberanian saja belumlah cukup tapi juga harus
ditunjang dengan pengetahuan yang cukup agar tidak gagal.

Alloh SWT berfirman:
QS 9:105
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu,..”

QS 84:6
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan
sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”.

Selain itu seorang muslim juga harus benar-benar MENGENAL DIRI-nya,
karena hal ini berkaitan dengan jenis usaha yang akan dipilihnya.
Dengan mengenal diri kita kita akan menjadi tahu jenis usaha yang
akan kita lakukan ini apakah bergerak dalam bidang JASA(service) atau PRODUK (manufacture).

Untuk mengetahui diri ini bisa juga digunakan TOOL yang sudah familir yang sering
kita dengar yaitu SWOT.
S = Strength (KEKUATAN)
W = Weakness (KELEMAHAN)
O = Opportunity (KESEMPATAN)
T = Threat (KENDALA)

Dengan kekuatan yang kita miliki maka kita usahakan untuk menutupi kelemahan yang
ada pada kita sehingga kita bisa mengambil kesempatan dan menghindari kendala.

Selain itu seorang muslim juga harus menguasai MANAJEMEN, karena yang namanya
berusaha, bekerja pasti terkait dengan sistem-sistem dalam manajemen, sehingga
mau tidak mau pasti kaidah Plan, Do, Check, Action ini pasti diterapkan.

Dalam hal perencanaan, disini kita sudah memsukkan/ mengklarifikasi VISI dan MISI
dari usaha yang akan kita lakukan, karena kita Muslim agar kita dalam berusaha
tidak keluar dari syari’at maka jangan lupa dengan QS Adz-Dzaariyaat:56, sehingga
tidak semata-mata mencari keuntungan saja, tapi ada sisi syi’ar lain lain yang
tetap kita perhatikan.

Dalam memulai ini maka kita mesti mulai dari PASAR dahulu, berarti ini sebenarnya
sesuai dengan apa yang dilakukan oleh rasul saw dahulu, artinya konsep ini sebenar
nya adalah konsep yang islami.(?)
Dengan memulai dari pasar kita menjadi tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan, sehingga
bisa menelurkan prinsip BUATLAH APA YANG DAPAT KAMU JUAL, bukan JUALLAH APA YANG
DAPAT KAMU BUAT.

Kalo kita berprinsip BUATLAH APA YANG DAPAT SAYA JUAL, maka kita memfokuskan pada
PASAR, karena kita tahu pasar maka kita tahu apa yang dibutuhkan, sehingga hukum
SUPPLY dan DEMAND bisa ketemu. Tetapi bila kita berprinsip JUALLAH APA YANG
DAPAT SAYA BUAT, hal ini bisa mendatangkan kerugian pada kita, karena kita langsung
bikin PABRIK tanpa tahu yang dibutuhkan PASAR. Alih-alih setelah dibuat ternyata
tidak laku dijual, sebab yang dibutuhkan pasar bukan seperti yang kita mampu membuatnya.
Dan sebetulnya dalam hidup ini kan kita memang menerpkan prinsip jual beli.

Sisi lain yang harus diperhatikan adalah TEKNOLOGI. Dalam dunia yang semakin berkembang
ini maka kitapun dituntut untuk menguasai teknologi, karena hal ini berkaitan dengan
kemudahan-kemudahan yang akan dirasakan, sehingga dalam prosesnya nanti akan terkait
dengan yang namanya EFISIENSI, PRODUKTIFITAS, tetapi konsep yang islami ini ada sedikit
perbedaan dengan konsep yang non-islami. Kalo konsep non-islam adalah betul-betul harus
RESULT ORIENTED, GOAL ORIENTED, kalo konsep yang islami bukan cuma result oriented, tapi
juga PROCESS ORIENTED. Bila kita perhatikan konsep dasar system yaitu I P O,
I = Input, masukkan.
P = Process, proses .
O = Output, hasil.

Artinya tidak melulu fokus hanya pada OUTPUT semata, tetapi INPUT dan PROCESS nya pun
harus difokuskan juga, bagaimana bisa menghasilkan output yang berkwalitas kalo process
atau input nya tidak berkwalitas.
Dalam teori ekonomi kapitalis (clasic), disebutkan bahwa meminimumkan pengeluaran,
memaksimumkan pemasukkan, artinya inipun kuranglah baik dari sisi humanisme yang
islami, kemungkinan terjadnya exploitasi(pemerasan) dan pendholiman akan sangat
rentan untuk terjadi.
Selain itu dalam hal pemanfaatan teknologi juga memudahkan dalam hal PENCATATAN,
pendataan, statistik, penghitungan.dll.

Kata Alloh SWT dalam al-Qur’an-Nya yang mulia:
QS 2:282
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”.

Dengan adanya data-data otentik maka kemungkinan terjadinya lupa, kesalahan penghitungan,
kesalahan penjadwalan, dll bisa dihindari.

Kemudian bila suatu usaha sudah berhasil maka kita juga jangan begitu saja puas, kita
harus berani untuk mencoba nya lagi yang lainnya, kita serahkan usaha yang sudah jalan
itu pada sodara, kerabat, famili muslim yang lainnya, kita tinggal melakukan, INSPECTION,
CONTROLLING, AUDITING, dll. yang penting SPAN of CONTROL nya masih memungkinkan bagi
kita untuk memonitor baik dari level terbawah atau teratas.

Berkaitan dengan pendelegasian dari usaha yang sudah establish tersebut, ada ayat yang
bisa dijadikan landasan (mudah-mudahan tidak salah):
QS 94:7 dan 8
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”,
“dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.

Dengan demikian, Muslim yang kuat dapat membantu Muslim yang masih lemah, sehingga
hal ini bisa membantu membuka lapangan pekerjaan, contoh – contoh pengusaha Muslim
yang berhasil ini diantaranya adalah Aa Gym.

Jadi jangan khawatir bahwa kalo kita menerapkan konsep-konsep yang islami maka usaha
kita tidak akan beruntung/berhasil, sebab yang namanya kemungkian di dunia itu adalah
adanya ketidak mungkian itu sendiri, artinya kemungkian berhasil dan tidak itu sama
besarnya, hanya saja ada kemungkian yang dengan memanfaatkan apa yang sudah diberikan
Alloh SWT pada kita yang tadinya tidak mungkin bisa berubah jadi mungkin.

Anggaplah kemungkinan berhasil kita refleksikan dengan model empiris dari fungsi
matematis sbb:

Kemungkian usaha kita untung adalah:

Sigma F(t) = c + 2t.
t= 0 sampai N.
dengan constraints t >= 10, dan c = 2.
Artinya ketika t bergerak dari 10 sampai dengan N, maka usaha kita akan menjadi mungkin
untuk beruntung/berhasil, tetapi ketika t bergerak dari 0 sampai 9, maka usaha kita mungkin
belum beruntung, mungkin baru BEP saja. Variable-variable t itu sendiri ya yang disebut
diatas tadi.

Itu saja sekedar perenungan, sharing value, sharing experience, sekedar menggugah, mengajak,
yang berkenan terimaksih, yang tidak berkenan mohon saya dimaafkan, tidak lain ini semua
sekedar mencari ridho Alloh SWT, tiada maksud apapun. Yang benar datang karena petunjuk
Alloh Azza wa Jalla, yang salah karena kedangkalan pemahaman/ilmu saya pribadi.

Wabillahi Taufik wal Hidayah,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

a.s.
Agus Safudi – HRD safudi at capcx.com

======================================

Sumber:

Gambar

Tulisan

About these ads

2 responses to this post.

  1. Kang, selepas kuliah ane males ngelamar kerja. Gara2 terdoktrin keterangan seperti di atas. Tapi dampaknya ORTU ga ridho. Akhirnya ane saat ini merngkap. Sebagai kuli iya, sebagai pedagang iya. Pedagang mie ayam tepatnya. Mohon doa restunya. mieqta.wordpress.com (tenda mie kami)

    kakanda:
    SubhanaLlah sudah mencoba 1/10 + 1/10 (dari 1/9) ya, semoga berkah rizkinya
    kalau sempat insya Allah saya mampir, dimana ya :)

    Reply

  2. nice info bro… thanks

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: